apa itu resesi

Apa Itu Resesi: Penyebab, Dampak, hingga Cara Mencegahnya

Apa Itu Resesi: Penyebab, Dampak, hingga Cara Mencegahnya
apa itu resesi

Apa itu resesi? Istilah ini kini sering terdengar, terutama karena menjadi topik hangat di berbagai media sosial. 

Namun, bagaimana sebaiknya kita menyikapinya? Apakah resesi benar-benar akan terjadi dan berdampak pada Indonesia? Sebelum membahas lebih jauh mengenai kemungkinan risiko resesi, sudahkah kamu memahami pengertian resesi?

Dalam artikel ini, kami akan menjelaskan apa itu resesi, tanda-tandanya, penyebab, dampaknya, serta cara menghadapinya. Jadi, jangan terlalu cemas setelah mendengar kabar tentang resesi.

Apa Itu Resesi Ekonomi?

Belakangan ini, banyak orang membicarakan tentang resesi. Namun, apakah kamu benar-benar paham apa itu resesi? 

Resesi merujuk pada kondisi dimana perputaran ekonomi suatu negara melambat atau bahkan memburuk, dan bisa bertahan dalam waktu yang cukup lama. 

Hal ini biasanya disebabkan oleh penurunan Produk Domestik Bruto (PDB) dalam dua kuartal berturut-turut.

PDB adalah ukuran aktivitas ekonomi suatu negara dalam periode tertentu. Jika dalam dua periode berturut-turut negara mengalami penurunan aktivitas ekonomi, maka negara tersebut dianggap sedang mengalami resesi. 

Ini bisa menjawab pertanyaan yang sering muncul, terutama tentang pengertian resesi dan dampaknya bagi perekonomian.

Menurut National Bureau of Economic Research (NBER) yang berbasis di Amerika Serikat, resesi adalah kondisi ketika negara mengalami penurunan aktivitas ekonomi yang signifikan selama beberapa bulan, dilihat dari indikator seperti PDB riil, tingkat pengangguran, produksi industri, penghasilan, dan penjualan grosir-ritel.

Dapat disimpulkan bahwa meskipun perekonomian melemah atau menurun, hal tersebut tidak selalu berarti resesi jika hanya terjadi dalam waktu singkat. 

Resesi baru bisa dikatakan terjadi jika kondisi tersebut berlangsung lebih dari satu kuartal atau bahkan mencapai satu tahun.

Ciri-ciri Resesi Ekonomi

Untuk mengetahui apakah perekonomian suatu negara telah mencapai titik resesi, ada beberapa ciri yang bisa diidentifikasi, di antaranya:

1. Penurunan Inflasi

Setelah memahami pengertian resesi ekonomi, jika kamu merasa belum sepenuhnya memahami kondisi tersebut, cobalah untuk mengamati beberapa tanda yang muncul. Tentu saja, ciri-ciri ini harus dilihat dari data dan sumber yang valid dan dapat dipercaya.

Salah satu tanda resesi ekonomi adalah inflasi yang mengalami penurunan. Hal ini menunjukkan bahwa daya beli masyarakat menurun atau ada kelesuan ekonomi, yang disebabkan oleh hilangnya atau berkurangnya sumber pendapatan. 

Akibatnya, pasar kehilangan gairahnya dan masyarakat hanya mampu membeli kebutuhan dasar.

2. Penurunan Suku Bunga

Penurunan suku bunga dapat menjadi tanda lainnya terjadinya resesi di suatu negara. Suku bunga ini bisa mencakup suku bunga simpanan dan pinjaman yang ditentukan berdasarkan suku bunga acuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia (BI). 

Sebagai bank sentral, BI dapat menurunkan suku bunga acuan untuk menjaga agar penyaluran kredit tetap terjaga. Penurunan suku bunga ini juga berdampak pada turunnya suku bunga pinjaman dan simpanan.

3. Penurunan Upah Riil

Jika terjadi pengurangan atau hilangnya penghasilan, daya beli masyarakat tentu akan menurun. 

Hal ini berdampak pada turunnya daya beli konsumen, yang pada gilirannya memengaruhi penurunan penjualan dan berujung pada menurunnya pemasukan bagi produsen. 

Jika kondisi ini berlangsung cukup lama, perusahaan atau pemilik usaha mungkin akan terpaksa melakukan efisiensi, yang salah satunya adalah dengan mengurangi upah atau bahkan memutuskan hubungan kerja (PHK). 

Langkah ini diambil untuk menjaga kelangsungan bisnis dengan cara mengurangi biaya atau pengeluaran yang timbul akibat berkurangnya pemasukan.

4. Tingginya Angka Pengangguran

Secara umum, pemutusan hubungan kerja (PHK) menyebabkan semakin banyak orang kehilangan pekerjaan, yang berarti jumlah pengangguran pun meningkat. Padahal, pekerja memiliki peran penting dalam perekonomian negara. 

Kenaikan angka pengangguran ini dapat memicu masalah sosial lainnya, seperti meningkatnya angka kriminalitas, karena banyak orang yang kesulitan memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Penyebab Terjadinya Resesi Ekonomi

Agar dapat lebih memahami resesi dan kapan sebuah negara dapat dinyatakan mengalami resesi, penting juga untuk mengetahui berbagai faktor penyebabnya yang dapat mengarah pada kondisi perekonomian yang sangat tidak diinginkan.

Berikut adalah beberapa faktor penyebab resesi ekonomi yang belakangan ini sering terdengar dan memicu ketakutan serta kecemasan banyak orang:

1. Inflasi

Kenaikan harga yang terus-menerus dapat memicu inflasi. Meskipun inflasi adalah fenomena alami yang terjadi dalam perekonomian, jika berlangsung secara berlebihan, situasi ini bisa menjadi sangat berbahaya dan berpotensi menyebabkan resesi. 

Inilah yang menjadi perbedaan antara inflasi dan resesi, yang perlu dipahami dengan baik. Inflasi tidak selalu berujung pada resesi, namun jika berlangsung terlalu lama, inflasi bisa memicu resesi.

Inflasi dapat mengurangi daya beli masyarakat, menyebabkan penurunan produksi barang dan jasa, serta meningkatkan angka pengangguran karena terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK) massal. Dampak jangka panjangnya adalah kemiskinan dan akhirnya resesi.

Untuk mengendalikan inflasi, bank sentral Amerika Serikat, misalnya, menaikkan suku bunga. Tujuannya adalah untuk menekan aktivitas ekonomi. 

Namun, peningkatan suku bunga ini justru berisiko memperburuk kondisi ekonomi dan memicu resesi—sebuah situasi yang tentu tidak diinginkan dalam kondisi apapun.

2. Deflasi yang Berlebihan

Deflasi, seperti halnya inflasi, dapat memberikan dampak negatif terhadap perekonomian. Dalam beberapa kasus, kondisi ini bahkan bisa menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya resesi.

Lalu, apa sebenarnya deflasi itu? Deflasi adalah suatu situasi di mana harga barang dan jasa cenderung turun secara terus-menerus dalam jangka waktu tertentu. Fenomena ini akhirnya dapat menyebabkan penurunan pendapatan pekerja. 

Proses penundaan pembelian barang dan jasa hingga harga mencapai titik terendah juga merupakan tanda dari terjadinya deflasi. Bagi pelaku usaha, ini menjadi ancaman besar bagi kelangsungan bisnis yang mereka jalani.

Walaupun mungkin daya beli konsumen meningkat, para pengusaha justru dihadapkan pada kebutuhan untuk mengurangi biaya produksi. Hal ini sering kali berujung pada kerugian. 

Apabila konsumen mulai menghentikan pengeluaran atau berhenti beraktivitas ekonomi, kondisi perekonomian akan semakin memburuk dan dapat berisiko mengalami kerusakan lebih lanjut.

3. Gelembung Aset

Salah satu faktor yang dapat menyebabkan resesi adalah munculnya gelembung aset. Kondisi ini terjadi ketika banyak investor bertindak impulsif dan memutuskan untuk menjual saham mereka, yang kemudian memicu terjadinya resesi. 

Fenomena ini sering disebut sebagai "kegembiraan irasional," di mana pasar saham dan properti mengalami inflasi harga yang tidak wajar. 

Akibatnya, gelembung ini akan pecah, menciptakan panic selling yang meruntuhkan pasar. Semua ini berujung pada kondisi ekonomi yang lebih buruk, yaitu resesi.

Ketika investor membuat keputusan berdasarkan emosi, mereka cenderung membeli saham dalam jumlah besar saat ekonomi dalam keadaan baik. Sebaliknya, mereka akan tergesa-gesa menjual saham ketika situasi ekonomi memburuk.

4. Terjadi Guncangan Ekonomi yang Mendadak

Selain faktor-faktor di atas, guncangan ekonomi yang datang secara tiba-tiba juga dapat menjadi pemicu resesi. Lantas, apa yang dimaksud dengan guncangan ekonomi? 

Salah satu cirinya adalah penurunan daya beli masyarakat, yang bisa terjadi karena masalah keuangan yang parah. Guncangan ini juga bisa disebabkan oleh masalah besar lainnya, seperti tumpukan utang yang tak terkendali.

Utang yang terus menumpuk akan menyebabkan bunga utang membesar, dan akhirnya berujung pada gagal bayar. 

Ketika peminjam atau debitur tidak mampu memenuhi kewajiban pembayaran mereka, situasi ini akan memperburuk kondisi ekonomi secara keseluruhan.

5. Perkembangan Teknologi

Resesi suatu negara tidak hanya dipengaruhi oleh aktivitas ekonomi, tetapi juga oleh perkembangan teknologi yang pesat. Teknologi dapat memberikan dampak positif, namun tidak jarang juga membawa dampak negatif. 

Perubahan ini, baik cepat maupun lambat, pada akhirnya akan dirasakan oleh banyak pihak. Teknologi yang semakin maju memungkinkan terciptanya produk yang dapat menggantikan pekerjaan manusia, seperti robot dan kecerdasan buatan (AI).

Dengan berkurangnya lapangan pekerjaan akibat otomatisasi, jumlah pengangguran pun berpotensi meningkat. Hal ini tentunya dapat memicu terjadinya resesi, karena ketidakseimbangan antara tenaga kerja yang dibutuhkan dan yang tersedia.

6. Produksi dan Konsumsi yang Tidak Seimbang

Ketika daya beli masyarakat menurun, tingkat konsumsi pun ikut berkurang. Situasi ini dapat menjadi bencana bagi para produsen karena menciptakan ketidakseimbangan antara produksi dan konsumsi. 

Produsen yang ingin tetap memenuhi permintaan pasar akan terus memproduksi barang dan jasa, meskipun daya beli konsumen terus menurun. 

Akibatnya, impor barang akan meningkat secara signifikan, sehingga pengeluaran perusahaan menjadi lebih besar. Sementara itu, keuntungan perusahaan dalam negeri akan semakin menipis.

7. Penurunan Pertumbuhan Ekonomi Selama Dua Kuartal Berturut-turut

Resesi bisa terjadi ketika ada penurunan yang signifikan dalam pertumbuhan ekonomi yang berlangsung secara berkelanjutan selama dua kuartal berturut-turut. 

Hal ini biasanya disebabkan oleh melemahnya Produk Domestik Bruto (PDB) suatu negara, yang menunjukkan penurunan aktivitas ekonomi dalam jangka waktu tertentu.

8. Nilai Impor Lebih Tinggi dari Ekspor

Salah satu indikator yang dapat menjadi penyebab resesi adalah ketika nilai impor lebih besar dibandingkan dengan nilai ekspor.

Kondisi ini menyebabkan defisit pada anggaran negara, yang pada gilirannya menurunkan pendapatan nasional dan memperburuk perekonomian secara keseluruhan.

9. Tingginya Tingkat Pengangguran

Ketidakstabilan ekonomi yang disertai dengan melemahnya daya beli masyarakat dapat menyebabkan jumlah pengangguran meningkat. Kondisi ini, jika dibiarkan, dapat mendorong negara menuju resesi. 

Tenaga kerja yang berkurang akan menghambat proses produksi dan pertumbuhan ekonomi, yang sangat penting untuk kelangsungan perekonomian suatu negara.

Dampak Resesi Ekonomi

Mengapa resesi sangat mengkhawatirkan? Apa saja dampaknya? Resesi jelas membawa dampak negatif bagi perekonomian. Ketika resesi terjadi, baik bisnis besar maupun kecil akan merasakan dampaknya.

Keadaan semakin buruk dengan semakin ketatnya akses kredit. Proses permohonan kredit menjadi lebih lambat, sehingga menciptakan rasa ketidakpastian, kekhawatiran, dan ketakutan di kalangan masyarakat.

Apa saja dampak yang mungkin terjadi jika Indonesia mengalami resesi? Berikut adalah ulasan lebih lanjut:

1. Dampak bagi Pemerintah

Salah satu dampak yang paling nyata dari resesi adalah meningkatnya angka pengangguran. Dalam situasi ini, pemerintah dituntut untuk segera menemukan solusi guna mengatasi resesi dan menciptakan lapangan pekerjaan kembali. 

Hal ini penting agar mereka yang kehilangan pekerjaan bisa memperoleh pekerjaan baru sebagai sumber penghidupan.

Selain itu, pinjaman pemerintah juga diperkirakan akan meningkat. Setiap pemerintah negara membutuhkan dana untuk membiayai upaya-upaya pemulihan ekonomi dan berbagai kebutuhan pembangunan.

Pendapatan negara yang berasal dari pajak dan non-pajak biasanya akan menurun. Dengan rendahnya penghasilan yang diterima oleh pekerja selama resesi, pendapatan dari pajak penghasilan juga akan ikut menurun. 

Harga properti yang turun dan rendahnya daya beli masyarakat juga akan berkontribusi pada rendahnya penerimaan pajak.

Namun, meskipun pendapatan negara berkurang, pembangunan di sektor-sektor penting tetap harus dilanjutkan demi kesejahteraan rakyat. Hal ini bisa menyebabkan defisit anggaran, yang berisiko menambah beban utang pemerintah.

2. Dampak bagi Pengusaha

Selain pemerintah, pengusaha atau perusahaan juga akan merasakan dampak signifikan dari resesi. 

Risiko kebangkrutan menjadi semakin nyata karena berbagai faktor, seperti pertumbuhan ekonomi yang negatif, krisis kredit, jatuhnya harga aset berbasis utang, dan tergerusnya sumber daya riil. 

Pendapatan pengusaha atau perusahaan akan menurun jika bisnis mereka gagal, yang pada gilirannya dapat mempengaruhi perekonomian para pekerjanya. 

Jika terjadi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), para pekerja yang terdampak akan kehilangan sumber penghasilan dan kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Selain itu, pengurangan upah bagi pekerja yang masih tetap bekerja juga berimbas buruk pada perekonomian. Dengan berkurangnya penghasilan, daya beli terhadap barang dan jasa akan menurun. 

Hal ini membuat peluang bagi perusahaan untuk memperoleh pendapatan yang tinggi semakin kecil, dan arus kas mereka pun menjadi terancam.

Ketika resesi terjadi, masyarakat cenderung lebih berhati-hati dalam pengeluaran mereka. Akibatnya, permintaan terhadap barang dan jasa menurun, yang pada gilirannya berdampak pada penurunan laba perusahaan.

3. Dampak bagi Pekerja

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, resesi dapat menyebabkan pekerja kehilangan sebagian atau bahkan seluruh penghasilannya. Dalam situasi ini, dampak resesi terasa sangat nyata karena para pekerja akan kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka.

Peningkatan angka pengangguran juga bisa memicu ketidakstabilan sosial yang lebih luas. Hal ini berpotensi menyebabkan kerusakan sosial dan menambah ketegangan di masyarakat. 

Tatanan sosial dalam kehidupan berbangsa dan bernegara pun menjadi terancam, yang berpotensi memperburuk keadaan.

Cara Mencegah Resesi Ekonomi

Setelah memahami pengertian resesi ekonomi, penyebabnya, serta dampaknya, kini saatnya kita mencari tahu langkah-langkah yang bisa diambil untuk mencegah terjadinya resesi. Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mencegah dan mengatasi resesi ekonomi:

1. Belanja Pemerintah Secara Besar-besaran

Untuk menghadapai ancaman resesi, pemerintah bisa meningkatkan belanja secara signifikan. Hal ini akan meningkatkan permintaan domestik, yang pada gilirannya mendorong dunia usaha untuk kembali berinvestasi. 

Langkah ini bisa menjadi salah satu cara untuk meredam efek domino yang timbul akibat pandemi Covid-19 yang lalu.

2. Bantuan untuk UMKM

UMKM merupakan sektor yang paling terdampak selama pandemi. Oleh karena itu, pemerintah perlu menyiapkan berbagai program yang bisa membantu sektor ini agar segera pulih dan kembali beroperasi dengan baik.

3. Penempatan Dana di Perbankan serta Penjaminan Kredit Modal Kerja bagi Korporasi

Salah satu upaya lain untuk mengatasi resesi adalah dengan melakukan penempatan dana di perbankan, khususnya untuk korporasi yang bergerak di sektor padat karya. 

Selain itu, penjaminan kredit modal kerja juga perlu dilakukan untuk mendukung pelaku usaha korporasi di sektor ekspor yang memiliki banyak karyawan.

4. Langkah-langkah yang Bisa Dilakukan oleh Masyarakat untuk Mencegah atau Mengatasi Resesi

Dengan semakin banyaknya pembicaraan tentang potensi resesi global, ada baiknya setiap individu mempersiapkan diri. Beberapa hal yang bisa dilakukan antara lain:

  • Menyediakan dana darurat yang cukup, idealnya minimal tiga kali penghasilan bulanan.
  • Memastikan bahwa keanggotaan BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan masih aktif, serta mempertimbangkan manfaat proteksi dari asuransi yang sudah dimiliki.
  • Menghemat pengeluaran rutin seperti listrik, air, internet, bahan bakar, dan pengeluaran lainnya.

Sebagai penutup, memahami apa itu resesi dan dampaknya sangat penting agar kita dapat mengambil langkah-langkah yang tepat dalam menghadapi tantangan ekonomi di masa depan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index